Senin, 14 Maret 2011

PENDIDIKAN KARAKTER

Oleh : dr. Adi Tucunan, M.Kes


Berita mengenai tindakan kriminal yang dilakukan baik oleh masyarakat kecil sampai pada masyarakat kelas atas terus terngiang-ngiang di telinga kita setiap harinya. Media massa maupun elektronik beramai-ramai membombardir pikiran kita dengan begitu banyak kejahatan dan kekerasan yang terjadi setiap waktu. Bahkan kita sendiri sepertinya sudah tidak peka lagi dengan pemberitaan seperti ini dan menganggap sebagai sesuatu yang biasa terjadi. Dari pencurian kelas teri seperti mencopet di jalanan sampai pada pencurian kelas kakap alias korupsi berjemaah selalu menghiasi wajah pertelevisian dan media massa kita. Dunia pendidikan pun yang seharusnya mengajarkan kita berakhlak baik malahan ikut-ikutan terjerumus dengan persoalan-persoalan yang berbau kriminalitas seperti tawuran pelajar dan mahasiswa, pesta narkoba  dan banyak kejahatan lainnya yang menghiasi bumi pertiwi Indonesia. Dan memang kenyataan yang kita hadapi sekarang tidaklah hanya dihadapi oleh bangsa kita, tapi ini sudah menjadi sesuatu yang universal sifatnya, karena menyentuh hampir setiap belahan dunia. Saya mengkuatirkan dengan adanya dekadensi moral seperti inilah yang membuat bangsa kita menjadi lemah dan sulit bersaing di tingkat global dalam persaingan yang lebih maju. Tidak usahlah kita berbicara dulu mengenai kemajuan teknologi, perekonomian, penguasaan Iptek yang merupakan syarat untuk menjadi suatu negara yang maju. Tapi mari kita lihat dulu akar permasalahan yang dihadapi bangsa kita sehingga tidak cenderung bergerak ke depan tapi malahan mundur. Gambaran bahwa negara kita menjadi salah satu yang paling korup di dunia merupakan bukti sahih lumpuhnya martabat kita sebagai bangsa dan kita kehilangan identitas diri dalam menguasai masalah-masalah moral. Apa yang kita tanam selama ini, ternyata membuahkan hasil. Alih-alih menghasilkan SDM handal dalam Iptek, untuk membuahkan manusia Indonesia yang tahu bagaimana membuang sampah pada tempatnya, menjadi pegawai dan karyawan yang rajin dan jujur saja, kita tidak berhasil. Jadi tidaklah mengherankan kalau kualitas SDM (Human Development Index) Indonesia berada di bawah Vietnam, apalagi dengan Malaysia dan Singapura.
            Thomas Lockona, profesor pendidikan dari Cortland university, mengungkapkan bahwa ada “tanda-tanda saman” yang harus diwaspadai karena kalau tanda-tanda itu sudah ada, sebuah bangsa akan menuju jurang kehancuran. Tanda-tanda itu adalah : 1) meningkatnya kekerasan di kalangan remaja, 2) penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk, 3) pengaruh per-group yang kuat dalam tindak kekerasan, 4) meningkatnya perilaku yang merusak diri seperti narkoba, seks bebas dan alkohol, 5) semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk, 6) penurunan etos kerja, 7) semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru, 8) rendahnya rasa tanggungjawab individu dan warga negara, 9) ketidakjujuran yang begitu membudaya, 10) rasa saling curiga dan kebencian di antara sesame.
            Kita saat ini menghadapi krisis yang paling sulit dalam sejarah peradaban bangsa kita, di mana upaya mempertahankan nilai-nilai yang menjadim karakter dari suatu bangsa tidak lagi dilihat dari sudut pandang kemanusiaan dan sebagai sesuatu yang fundamental, tapi semuanya diukur dari materi yang membentuk pola pikir yang mengarah pada paham hedonism di mana nilai-nilai yang baik dikikis sampai pada taraf terendah saat ini. Masyarakat kita masih suka bereaksi secepat kilat dalam menghadapi pemberitaan yang negatif ketimbang menanggapi hal-hal yang positif, mereka begitu cepat emosional dalam menghadapi berbagai persoalan. Akibatnya, risiko terjadi konflik baik itu antar etnis, agama, sesama saudara mudah sekali meletup hanya dengan persoalan kecil. Seolah-olah merekalah yang menjadi standar apa yang benar sehingga yang lain harus mengikuti kemauan mereka. Konflik kepentingan di berbagai wilayah pilkada menjadi bukti kongkritnya, betapa masyarakat kita memiliki kecerdasan yang rendah karena hanya memikirkan dirinya sendiri. Kaum penguasa juga tidak kalah garangnya, pemerintah dan legislatif membangun konflik mereka sendiri sehingga harus main jotos-jotosan karena melakukan ‘perang sengit’, semuanya demi kepentingan kelompok dan pribadinya sendiri. Francis Fukuyama mengatakan, ‘bangsa yang bisa maju adalah yang mempunyai social capital yaitu high trust society’. Ciri-cirinya adalah masyarakat yang individu-individunya layak dipercaya. High trust society adalah karakter bangsa yang nilai-nilai integritas, kerjasama, tenggangrasa, etos kerja tinggi, dan amanah (jujur dan bertanggungjawab) menjadi corak perilaku kehidupan sehari-hari.
            Kalau kita mau menciptakan bangsa yang berdemokrasi tinggi, maka kita harus menjunjung tinggi dulu karakter yang kuat dari masyarakat kita yaitu melalui pendidikan karakter jangka panjang dan terus menerus. Untuk apa kita menciptakan para sarjana dan saintis yang hanya menguasai bidang teknokrat saja tapi lumpuh akhlaknya? Bukankah lebih baik dan lebih utama kita membangun karakter yang beradab dulu dengan pendekatan pada persoalan humaniora itu sendiri? Thomas Friedman dalam bukunya The Lexus and the Olive Tree (1999) mengatakan, modal dasar untuk bersaing di pasar global adalah free market democracy, yaitu negara demokratis yang bersih dan bebas dari korupsi, yang pada intinya bermuara pada karakter juga. Sebenarnya saat ini, kita belumlah menjadi negara demokrasi, tapi negara kleptocracy (kebalikan dari demokrasi), yang menurut dia tidak akan survive dalam persaingan global. Karakteristik dari kleptokrasi itu mirip dengan keadaan di Indonesia seperti KKN (Korupsi, kolusi dan nepotisme) yang merajalela. Masyarakat demokratis adalah bangsa yang berkarakter, karena menurut Peter Berger, untuk membentuk masyarakat yang demokratis harus dilakukan oleh para demokrat sejati. Menurutnya, seorang demokrat sejati adalah yang mempunyai karakter terbuka, jujur, etos kerja tinggi, bertanggungjawab, berintegritas, menghormati orang lain dan mempunyai kepedulian tinggi. Apakah kita sebagai suatu masyarakat yang hidup di abad ke-21 ini sudah mencerminkan stereotip komunitas demokrat seperti di atas? Kalau kita belum mempunyai ciri-ciri seperti di atas maka bangsa kita belum layak membangun bangsa yang demokratis dengan tingkat kepercayaan yang tinggi.
            Pendidikan yang kita agung-agungkan untuk mencetak manusia yang berbobot dari segi kualitas ilmu pengetahuan, nyatanya gagal mengawal kecerdasan kita yang lain yaitu kecerdasan emosi. Karena memang pendidikan kita tidak terbiasa melakukan hal itu pada taraf yang lebih dalam lagi, sehingga pada akhirnya tujuan akhir dari pendidikan untuk membentuk manusia-manusia berbudi pekerti luhur hanyalah retorika dan slogan dunia pendidikan, tanpa ada hasilnya. Bukti terus memperlihatkan, banyak sarjana kita yang tidak memiliki kapasitas karakter yang hebat layaknya kehebatan ilmu yang mereka sandang, karena mereka dicetak untuk menguasai murni hal-hal yang mekanistik dan tidak mau ‘ambil pusing’ dengan tujuan-tujuan luhur dari eksistensinya sebagai ilmuwan dan manusia sekaligus, yang memiliki sudut pandang yang komprehensif terhadap perbagai persoalan. Bahkan banyak lulusan perguruan tinggi dari luar negeri sekalipun, baik itu pada level master maupun doktor, tidak menjadi jaminan suatu institusi pendidikan itu dapat maju. Karena banyaknya bukti yang mendukung bahwa kita gagal menjalin komunikasi dan dialog di antara berbagai disiplin keilmuan untuk menghadapi persoalan di tengah-tengah masyarakat kita. Tidak ada gunanya reputasi diakui hanya pada konteks akademik atau ilmiah tapi tidak memberikan sumbangsih apa pun pada masalah-masalah kemasyarakatan. Karena menyadari bahwa dewasa ini orang tidak bisa lagi terus berada di wilayahnya atau bidangnya sendiri, pikiran merespek memperhatikan dan menyambut berbagai perbedaan di antara individu dan antara kelompok manusia, berupaya memahami orang atau kelompok lain, dan berupaya bekerja secara efektif bersama mereka. Dalam suatu dunia di mana semuanya saling terhubung ini, sikap tidak toleran dan sikap tidak mau merespek tidak lagi mendapat tempat.
            Oleh karena itu diperlukan perubahan mendasar dari paradigma pendidikan kita, yang tadinya sangat cognitive oriented (penggunaan otak kiri yang dominan), kepada pengikutsertaan pendidikan karakter (otak kanan). Pendidikan karakter melalui definisinya adalah pendidikan untuk membentuk kepribadian seseorang melalui pendidikan budi pekerti, yang hasilnya terlihat dalam tindakan nyata seseorang, yaitu tingkah laku yang baik, jujur, bertanggungjawab, menghormati hak orang lain, kerja keras dan sebagainya (Thomas Lickona). Komponen penting yang juga harus diperhatikan pada pendidikan karakter adalah bagaimana menumbuhkan rasa keinginan untuk berbuat baik (desiring the good). Keinginan untuk berbuat baik adalah bersumber dari kecintaan untuk berbuat baik (loving the good). Prof. George Boggs meneliti tentang adanya 13 indikator keberhasilan seseorang dalam dunia kerja yaitu (1) jujur, (2) tepat waktu, (3) biasa ,menyesuaikan diri dengan orang lain, (4) bisa bekerja sama dengan atasan, (5) menjalankan tugas dan kewajibannya dengan baik, (6) motivasi tinggi untuk memperbaiki diri, (7) percaya diri, (8) mampu berkomunikasi dan menjadi pendengar yang baik, (9) mampu bekerja mandiri dengan supervisi minimum, (10) tahan terhadap stress, (11) mempunyai kecerdasan sesuai kebutuhan, (12) bisa membaca dengan pemahaman memadai, (13) mengerti dasar-dasar berhitung. Ternyata 10 dari 13 (77%) indikator tersebut adalah menyangkut karakter yang merupakan dominan domain otak kanan dan sisanya (23%) yang menyangkut otak kiri.
            Memang tugas untuk menjalankan pendidikan karakter ini sangatlah sulit dan ini membutuhkan waktu bertahun-tahun lamanya. Tapi ketimbang kita membuang-buang waktu dan uang hanya dengan mengejar sasaran kualitas pendidikan pada tingkat penguasaan Iptek saja, maka ada baiknya orientasi pendidikan sekarang harus bertumpu pada bagaimana kita menjadi manusia seutuhnya (how to be a humankind). Saya yakin, dalam beberapa tahun keberhasilan kita  membangun karakter yang kuat lewat pendidikan terus menerus kita akan menuai hasil yang optimal dari itu semua. Kita dapat menyatukan semua sumberdaya yang ada di negeri ini untuk menciptakan manusia-manusia yang unggul, bukan menciptakan IQ yang tinggi tapi EQ yang terdepan. Sehingga persoalan bangsa yang paling rumit sekalipun akan dapat diatasi dengan itu semua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar