Oleh: dr. Adi Tucunan, M.Kes
Jika ada waktu luang atau ingin mencari sesuatu kebutuhan, biasanya daya menuju arah pusat kota (atau orang Manado menyebutnya pasar 45) untuk sekedar melihat-lihat atau membeli sesuatu. Adakalanya dengan jalan-jalan seperti itu bisa mengurangi beban stress dari rutinitas kehidupan sehari-hari, tapi adakalanya membuat pikiran saya stress. Mengapa bisa ada perasaan dualisme seperti itu? Bagaimana tidak selain dapat terpenuhi keinginan saya, tapi di lain pihak situasi sekitar begitu mengganggu suasana hati karena terlihat hal-hal yang kurang menyenangkan. Pikiran jahil saya melintaskan sesuatu untuk diolah sebagai substansi kritikan dalam otak saya (inilah yang saya sebut sebagai belajar langsung dari lingkungan). Dan inilah saya menemukan diri saya berada di tengah-tengah kota yang hiruk-pikuk (karena lalulintas yang padat) dengan pemandangan yang membuat hati saya gerah dan terusik untuk menulis tulisan ini. Sepanjang jalan yang saya lewati, tak pernah terlepas dari pandangan saya bahwa ada begitu banyak sampah yang berserakan, apakah itu ada di jalan-jalan atau di angkutan kota sama saja (yang memang juga patut diakui ada juga yang bebas dari sampah) sering memperlihatkan pemandangan yang mengusik nurani saya. Orang-orang yang mengendarai kendaraan pribadi masih suka seenaknya membuang sampah dari dalam mobilnya ke jalan, padahal kalau dilihat orang-orang tersebut adalah mereka yang memiliki tingkat pendidikan yang baik dan terpelajar tapi jarang mereka menggunakan kecerdasan ekologis-nya dan sadar bahwa lingkungan itu adalah milik kita bersama. Selokan-selokan di Manado banyak yang dipenuhi dengan sampah dan mereka akan muncul ke jalan-jalan pada saat terjadi hujan lebat dan membanjiri sebagian ruas jalan yang ada di tempat-tempat umum. Ini mungkin yang menjadikan Manado saat ini sudah menjadi rawan atau langganan banjir pada saat hujan lebat datang. Darimana asal muasal sampah itu, bukankah dari masyarakat Manado sendiri yang dengan entengnya suka membuang apa saja ke tempat yang dapat mendatangkan bencana bagi lingkungan? Sungguh memiriskan hati. Betapa tidak, kita diagung-agungkan sebagai kota damai dan dipenuhi orang-orang religius karena banyaknya gedung ibadah bertebaran di kota Manado, tapi memperlihatkan karakter baik saja dengan menjaga lingkungan sekitar-pun kita tidak mampu.
Sering muncul pertanyaan dari benak saya, bagaimana bisa dengan lingkungan yang seperti keadaan sekarang kita bisa memperoleh Adipura sebagai penghargaan tertinggi bagi kota yang mempunyai tingkat kebersihan yang baik? Kalau saya tidak salah, kita sedang memperjuangkan kembali memperoleh Adipura untuk yang kelima kalinya. Kita memang pantas berbangga bahwa kita mendapat penghargaan Adipura, tapi apakah memang penghargaan itu menjadi bagian dari penghargaan terhadap individu masyarakat kita atau hanya kepada lingkungan saja yang mudah sekali dikamuflasekan, karena jangan-jangan kebanggaan itu hanyalah milik segelintir orang yang mencari pamor dari perolehan Adipura ini. Jika ada yang melihat ini sebagai nilai dari suatu perbuatan yang hargai melalui pemberian penghargaan, maka kita adalah masyarakat atau pemerintah yang suka dininabobokan dengan penghargaan. Saya tidak melihat penghargaan ini sebagai sesuatu yang salah dan mengkritik kebijakan ini sebagai sesuatu yang absurd. Tapi superioritas karakter kita yang senang bermegah-megah dengan penghargaan itulah yang akan menjadi bumerang bagi pemerintah kota dan masyarakat yang terlibat di dalamnya. Bagaimana tidak? Kita sebagai masyarakat diinstruksikan untuk menjaga kebersihan pada saat tim penilai turun lapangan memberikan penilaian, bukan dengan kampanye menjaga kebersihan tiap saat. Pemerintah berusaha keras mengamankan kota dengan semua cara demi sekedar menyenangkan tim penilai (ooopss…maaf) agar kita dianugerahi pahlawan kebersihan dengan Adipura ini. Sebagai masyarakat dan pemerintah yang peduli dengan lingkungan sekitar, bukankah seharusnya kita berusaha menjaga kebersihan mulai dari jiwa kita sendiri sehingga menampakkan perilaku ini tiap saat dan bukan pada saat mempertahankan Adipura? Kekuatiran saya adalah bahwa kita telah menjadi terbiasa dengan ‘karakter bunglon’ yang berubah-ubah menyesuaikan diri dengan situasi. Nanti kalau ada penghargaan Adipura yang diperebutkan, kita berlomba-lomba menjaga kebersihan, tapi kalau penghargaan itu sudah lewat kita memakai falsafah orang Jakarta yang menyebut dengan istilah egp (emang gue pikirin). Saya masih sering melihat secara langsung bagaimana masyarakat kita masih senang membuang sampah yang habis dipakainya sembarang saja, apakah itu berbentuk plastik, kertas dan masih banyak yang lain. Fasilitas-fasilitas publik khususnya jalan raya masih terlihat di sana sini sampah berserakan. Tentu saja kesadaran masyarakat kita saat ini dipertanyakan apakah mereka benar-benar menjunjung tinggi perilaku baik dengan tidak membuang sampah sembarangan ataukah sudah tidak ada lagi rasa peduli dari masyarakat kita yang seolah-olah apatis dengan persoalan karakter mereka. Begitupula dengan angkutan kota yang begitu kotor dan kurang terawatt, tidak menyediakan tempat sampah bagi penumpang. Dulu memang marak diinstruksikan dan hampir semua angkot punya tempat sampah (itupun dengan sedikit ancaman lewat Perda), tapi coba lihat sekarang hampir tidak ada lagi angkot yang menyediakan tempat sampah. Karena bagi para sopir, yang penting adalah pemasukan uang setoran dan bukan pelayanan publik seperti kebersihan yang diprioritaskan. Ketidak-konsistenan pemerintah menjalankan amanah undang-undang lewat Perda yang mereka buat sendiri dengan tidak melakukan pengawasan yang baik terhadap implementasi Perda yang ada, diperparah dengan sifat cuek-nya masyarakat terus mendorong terciptanya karakter masyarakat yang tumpul. Kita tidak bisa membangun peradaban yang lebih tinggi dengan karakter seperti ini.
Memang, dalam tulisan ini saya hanya mengambil contoh kecil dari kehidupan bermasyarakat kita seperti masalah di atas, berkaitan dengan karakter masyarakat kita tapi sebenarnya masih banyak hal yang patut kita renungkan bersama atas kegagalan kita menjadi individu dan masyarakat yang bertanggungjawab. Tap pernahkah terlintas dalam benak kita bahwa jika kita menganggap ini sebagai sesuatu yang sepele, ini bisa merendahkan martabat kita? Sebagai suatu bangsa kita tidak dapat menuju ke arah perkembangan yang lebih baik atau membangun bangsa tanpa kita memikirkan hal-hal yang kecil seperti ini. Adalah suatu kemustahilan bila kita ingin menuju keluarga, masyarakat dan bangsa yang maju dan beradab kalau hal sekecil dan sepele membuang sampah saja kita tidak bisa mendidik diri kita sendiri. Bagaimana Anda bisa membangun kota tanpa mempelajari rancang bangun dan semua konsekuensinya, jangan-jangan gedungnya berdiri tapi dalam beberapa tahun akan runtuh karena ketidakcakapan kita mengelola ‘building character’. Menurut Aristoteles, sebuah masyarakat yang budayanya tidak memperhatikan pentingnya mendidik good habits (kebiasaan berbuat baik), akan menjadi masyarakat yang terbiasa dengan kebiasaan buruk. Mengapa negara Asia lainnya seperti Korea, Jepang dan negara tetangga kita Singapura menjadi negara-negara maju di Asia dan bahkan dunia? Itu karena mereka peduli dengan karakter masyarakatnya yang mementingkan hal-hal yang fundamental seperti perilaku yang baik yang diterapkan pada lingkungan sekitarnya. Kalau Anda pernah tahu, ada suatu cerita mengenai masyarakat Korea Selatan yang habis merayakan kemenangan Timnas sepak bola waktu Piala Dunia lalu, kira-kira ada jutaan orang yang turun ke jalan waktu itu dan tidak pern ah sekalipun ada sepotong kertas atau plastik yang tergeletak di jalan-jalan dan demikian halnya tidak ada satu pun fasilitas publik yang mengalami kerusakan karena tidak sengaja ditabrak, apalagi sengaja dirusak. Bagaimana mungkin ini terjadi? Jawabannya adalah kebiasaan baik (good habits) seperti yang dikatakan Aristoteles di atas. Di kota kita Manado yang tercinta ini, saya banyak melihat sehabis kegiatan di mana saja baik itu di gedung-gedung elit, perkantoran, kampus, tempat ibadah, setelah kegiatan berakhir (apalagi saat ini banyak diadakan perayaan menyambut Natal) begitu banyak sampah yang berserakan dan dibiarkan begitu saja tidak langsung dibersihkan. Ini sangat menyedihkan kalau kita kembali mengingat ajaran-ajaran kebaikan yang ditanamkan kepada kita lewat berbagai nilai-nilai yang baik dalam keluarga dan pendidikan, yang tidak bisa kita jalankan karena keegoisan diri kita yang tidak mau peduli dengan good habits.
Sebuah bangsa adalah kumpulan dari individu-individu dan kemaslahatan sebuah bangsa amat ditentukan oleh pikiran dan tindakan para individunya, yang tentunya akan membuat sebuah pola budaya atau kebiasaan masyarakat. James Dale Davidson mengatakan “all strong societies have a strong moral basis”. Karena menurutnya, semua bangsa yang maju sebagian besar disebabkan oleh karakter individunya yang mandiri, pekerja keras, mempunyai tanggungjawab keluarga dan sosial, jujur dan hemat. Karakter inilah yang disosialisasikan melalui pendidikan dalam keluarga, sekolah dan agama. Masalahnya adalah kita belum mempunyai komitmen membangun karakter pada tingkat individu yang memerlukan perubahan cara berpikir, pola pengasuhan, tindakan dan sistem pendidikan di sekolah. Hal ini belum menjadi perhatian khusus dari banyak pemikir dan pemimpin kita. Mereka belum bisa melihat bahwa semua permasalahan bangsa ini sebenarnya berakar dari permasalahan moral individu. Marvin Berkowitz mengatakan bahwa kebanyakan pendidikan moral yang diajarkan di sekolah-sekolah tidak pernah memperhatikan bagaimana pendidikan itu dapat berdampak terhadap perubahan perilaku. Saya masih ingat dulu waktu sekolah dasar hingga sekolah menengah begitu menguasai isi pelajaran PMP (pendidikan moral pancasila) dengan tingkat hafalan yang luar biasa, tapi arahnya sudah dapat ditebak yaitu para murid tidak banyak mendapat manfaat nyata pada perbuatan mereka karena tidak pernah diberi teladan melakukannya, tapi hanya menjadi bagian dari penguasaan kognitif saja. Pendidikan karakter memerlukan keterlibatan semua aspek dimensi manusia, sehingga tidak cocok dengan sistem pendidikan yang terlalu menekankan hafalan dan orientasi untuk lulus ujian. Dengan apa yang saya amati pada kehidupan bermasyarakatt kita (seperti pengalaman di atas) yang tidak terlalu peduli dengan lingkungan sekitar kita, maka saya menyangsikan piala Adipura yang kita peroleh benar-benar adalah jerih payah semua komponen kota Manado. Menurut hemat saya, belum saatnya kita memperoleh penghargaan itu jika strategi dan agenda yang kita kerjakan hanya bersifat propaganda dari suatu conflict of interest dan bersifat jangka pendek. Saya tidak anti Adipura tapi saya ingin menunjukkan kepada kita sebagai masyarakat kota bagaimana proses itu seharusnya berlangsung dipimpin oleh karakter masyarakat yang kuat, bukan instan dan dilakukan karena kita ingin dihargai. Ini hanyalah bagian dari strategi jangka pendek yang menurut hemat saya tidak mendidik masyarakat kita. Saya menyarankan kita mendidik generasi muda kita mulai dari tingkat pendidikan paling dini, dimulai dari keluarga sampai pada strata pendidikan tinggi. Bagaimana kita mendidik anak-anak kita, kita saja mendidik diri kita sendiri sebagai orang tua tidak bisa karena masih suka membuang sampah seenaknya? Saya masih sangat optimis kita masih memiliki character of change karena memang itu sudah ada sebagai anugrah Tuhan bagi kita. Hanya bagaimana caranya sekarang, kita menyingkapkan hal itu menjadi bagian dari jiwa kita dan pada saatnya akan mengeluarkan good habits dan pada akhirnya seluruh kehidupan kita dapat merasakan dampak yang baik dari itu semua. Selamat berjuang membangun karakter kita! Sehingga suatu saat, saya akan mengatakan bahwa saya bangga dengan piala Adipura itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar