Penulis : dr. A. Tucunan, M.Kes
(Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Unsrat)
“Takkan pernah saya lupakan, seorang wanita yang datang kepada saya dalam keadaan gemetar, dengan air mata berlinang, dan hampir tidak dapat berbicara karena amarah. Ia baru saja kembali dari unit perawatan intensif di rumah sakit saya, dimana Ibunya, pasien saya sedang sekarat. Ibunya tidak sadarkan diri dan ditunjang dengan sistem-sistem penunjang kehidupan, dan tak ada perawatan yang efektif. Sang putri baru saja diusir dari samping tempat tidur Ibunya karena waktu berkunjung telah usai: kunjungan di luar waktu berkunjung, demikian ia diberitahu, adalah “menentang kebijakan” dan akan “mengganggu”. Ibunya meninggal malam itu sendirian. Bagi wanita ini, terpisah dari Ibunya yang sedang sekarat tampaknya sangat merendahkan martabatnya. Ia siap mengutuk keseluruhan dunia medis modern, bukan saja atas ketidak-efektifannya, melainkan juga atas ketidak-berperasaannya. Ia tetap dendam terhadap sistem yang menurutnya tidak efektif dan juga tidak peduli.” (dikisahkan oleh Larry Dossey, M.D.).
Pengalaman ini mencerminkan begitu banyak alasan mengapa sekarang ini orang menganggap pemeliharaan kesehatan modern sebagai tidak manusiawi, tidak simpatik, dingin, tidak peduli, terlalu mekanikal dan teknikal, terlalu sok jadi pahlawan dan seringkali terlambat.
Ketika Anda atau keluarga Anda mengalami gangguan fisik atau sakit penyakit, maka Anda akan berusaha datang untuk meminta bantuan ke rumah sakit, klinik atau dokter pribadi untuk meringankan gejala penyakit Anda. Tapi pada saat Anda datang ke sana, dengan harapan untuk memulihkan kondisi Anda maka Anda akan merasa kecewa dengan berbagai tindakan yang Anda terima karena merasa tidak puas dengan perlakuan yang Anda dapat. Bagaimana tidak? Ketika Anda mengharapkan segala sesuatu berjalan dengan lancar dan mendapat kepuasan dari dokter Anda tapi yang Anda terima di sana adalah suasana yang sangat dingin dan bahkan terasa arogan dari pihak sang dokter maupun asistennya. Anda merasa sepertinya Anda tidak diperlakukan selayaknya sebagai manusia.
Kalau deskripsi singkat di atas benar-benar yang Anda rasakan, maka itu akan menjadi suatu tragedi dalam dunia medis kita. Mengapa? Karena sebagai pasien sekaligus manusia yang memiliki nilai-nilai yang harus dijunjung tinggi sebenarnya Anda mendapat perlindungan oleh Undang-undang Kedokteran dan menerima hak Anda. Perlakuan yang kurang menyenangkan seperti di atas memang sering terjadi di mana saja baik di Indonesia secara khusus maupun di seluruh dunia, apalagi oleh mereka-mereka yang berpandangan murni konvensional dan mekanistis dalam dunia medis. Terkesan oleh pasien sendiri, “sang penyembuh” mereka lebih menjadikan mereka sebagai sumber pendapatan ketimbang subjek kemanusiaan itu sendiri. Di dalam istilah yang lebih filosofis, bukannya memandang sang pasien sebagai sesama manusia, sang pasien terancam menjadi objek di mata sang dokter. Hal ini bukan saja merampas keberadaan hakiki sang pasien, melainkan juga memutuskan sang dokter sendiri dari sumber kehidupan serta kasih di dalam karyanya.
Sebagai orang yang juga dididik dalam dunia medis, saya berusaha mengungkapkan keprihatinan ini dan ingin mengajak Anda sebagai individu-individu yang bergerak dalam dunia medis maupun sebagai masyarakat biasa, menelaah dan mengkritisi situasi dan gambaran dunia medis kita saat ini dalam konteks lokal maupun global. Terlepas dari perannya yang ‘hingar bingar’ sebagai saintis sekaligus ‘dewa penolong’, dunia medis modern kita terlalu mekanikal, jauh dan dingin. Kita tidak meluangkan waktu yang cukup dengan pasien-pasien; kita hanya fokus kepada tubuh mereka dan menghindari pertanyaan-pertanyaan menyangkut makna, menyerahkan pertanyaan-pertanyaan seperti itu kepada psikolog, pendeta dan imam. Tetapi sebagian besar dokter terus mengandalkan metode-metode yang didasarkan pada fisik yang paling kita kenal, membenarkan pendekatan ini dengan bukti dan keefektifannya.
Sebagian besar kekecewaan publik terhadap dunia medis modern terletak pada gagalnya praktisi medis untuk mengakui pentingnya makna dalam kehidupan serta penyakit pasien-pasien mereka. Kalau para dokter terus saja meminimalkan atau mengabaikan peran makna dalam kesehatan, kita akan terus kehilangan pengaruh. Kontes di antara para ahli terapi konvensional dengan ahli terapi alternatif bukanlah sekedar sosial ekonomi, keefektifan, keamanan dan ketersediaan, melainkan juga soal makna. Telah ditemukan fakta yang menyakitkan bahwa seberapa efektif pun dunia medis modern itu, kalau ia tidak menghormati tempat makna dalam penyakit, bisa-bisa saja ia kehilangan simpati dari mereka-mereka yang dilayaninya.
Dunia medis modern sering terbelenggu dengan begitu banyak kompleksitas permasalahan yang dihadapi. Dengan otoritas yang dimilikinya, para dokter sering tidak menyadari bahwa mereka sedang dinilai langsung oleh masyarakat sendiri. Para dokter maupun staf medis lainnya tidak boleh hanya memikirkan apa yang dipikirkan pasiennya juga. Para dokter tidak boleh hanya memikirkan penilaiannya sendiri terhadap penyakit pasiennya, tapi seharusnya dia memikirkan apa yang dipikirkan pasiennya juga. Para dokter tidak boleh hanya menyibukkan diri dengan urusan penyakit pasien mereka dan berfokus pada penyakit itu. Kita tidak boleh hanya memberikan kertas resep dalam ruang praktek kita dengan membiarkan seolah-olah hubungan kita dengan pasien hanya sebatas kertas resep. Bagi dokter modern sekarang, hubungan simpati dan empati tampaknya telah menjadi sesuatu yang sangat mahal untuk dimaknai. Bagaimana tidak? Dalam ruang praktek saja kita sukar untuk menjalin komunikasi dengan sang pasien. Nampaknya para dokter harus belajar ilmu komunikasi dan sedikit ‘akting’ kalau ingin ruang prakteknya sering dikunjungi pasien. Di masyarakat sendiri, saya sering mendengar orang-orang sering mengatakan bahwa mereka lebih menyukai dokter tertentu dan bukannya dokter yang lain; mereka lebih cocok minum obat yang diberikan oleh dokter tertentu daripada yang diberikan oleh dokter yang lain.
Dalam pandangan saya, ini bukan masalah suka atau tidak suka, cocok atau tidak cocok, tapi ini lebih menyangkut pada kepercayaan sang pasien terhadap kredibilitas sang dokter di mata mereka. Ketika dunia medis gagal dan para pasien serta anggota keluarganya dikuasai kekecewaan, mereka takkan terhibur mendengar sukses-sukses yang telah dicapai dunia medis. Bagi mereka, hanya saat yang di depan mata itulah yang nyata. Sampai kapankah dunia medis ini berubah dari ‘sikap pandirnya’? Tapi sebenarnya pertanyaannya bukanlah kapan atau apakah, melainkan ke arah mana dan sampai sejauh mana? Jika kita mau dunia medis kita kita tercerahkan, berhentilah ‘mengutak-atik’ individu pasien sebagai ‘mesin pemberi ilmu’ dan ‘objek penghasilan’ kita, tapi hargailah makna kemanusiaannya yang hakiki.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar