Senin, 14 Maret 2011

BERPIKIR KRITIS DALAM DEMOKRASI

Oleh : dr. Adi Tucunan M.Kes


Sulawei Utara telah selesai merayakan pesta demokrasi bagi seluruh rakyatnya. Berbagai upaya dilakukan oleh setiap komponen masyarakat, pemerintah dan partai politik untuk menyukseskan acara yang selalu melibatkan agenda-agenda besar pada setiap isi kampanye sebagai konsep yang dijanjikan untuk dilakukan, entah itu dengan tujuan menarik dukungan lebih besar, menutupi kegagalan partai politik yang berkuasa atau bahkan menjurus pada penipuan terhadap kerangka berpikir rakyat yang menjurus pada pembentukan opini publik yang kebablasan. Sungguh disayangkan opini publik yang berkembang di masyarakat kita, hanyalah suatu kedangkalan dari berpikir kritis dalam memilih pemimpinnya. Memang, rakyat saat ini bisa dikatakan sudah melek politik karena sudah (katanya) kritis dalam memilih pemimpin mana yang harus dipilih, alias mana yang pantas dan tidak, mana yang mampu atau tidak. Tapi sayangnya, sekali lagi masyarakat sering tertipu oleh pemimpin yang dipilihnya. Janji-janji yang diutarakan saat kampanye jarang direalisasikan, fasilitas-fasilitas publik yang ingin dibangun dalam pernyataan kampanyenya urung dibangun dan masih banyak hal lain seperti itu. Masyarakat masih sering dibuai dengan jargon-jargon politik tanpa menyadari bahwa dalam setiap kesempatan pesta demokrasi terlalu sering ditemukan ketidakcerdasan karakter yang sesungguhnya bisa menipu khalayak ramai. Inikah yang dinamakan melek politik atau kritis dalam perpolitikan kita dewasa ini? Saya ragu, apakah masih cukup banyak masyarakat kita yang peduli dengan kekritisan dalam berpikir dan bertindak. Tidak untuk menimbulkan sikap pesimisme berlebihan, tapi saya mengkuatirkan kita sedang bergerak ke arah sana.
            Ekonom politik sekaligus sosiolog William Graham Summer memberikan definisi sebagai berikut terhadap pemikiran kritis: “Pemikiran Kritis adalah pengujian dan terhadap proporsi dari apa pun yang minta diterima, untuk menemukan apakah berhubungan dengan realitas atau tidak. Pemikiran kritis merupakan satu-satunya jaminan melawan delusi, desepsi, takhayul, dan kesalahpahaman atas diri kita dan lingkungan kita.” Kita sekarang telah menjadi sebuah masyarakat yang begitu , sudut pandang yang memberikan kredibilitas instan. Pencarian pengetahuan terdalam masih sulit dilakukan di zaman masyarakat yang memuja materialisme sebagai ideologi baru mereka. Pencarian pengetahuan ini bukan hanya demi kepentingan pengetahuan itu sendiri, tetapi juga demi tercapainya sebuah solusi yang diterima semua orang, sebuah “egalitarian intelligence”. Egalitarian Intelligence sendiri adalah pembentukan pengetahuan dan pendidikan untuk sesuai dengan benak seseorang, dan bukannya membentuk otak seseorang untuk belajar berbagai metode formal dari pemecahan masalah, nalar induktif dan pengetahuan faktual. Tidak ada yang bisa dikesampingkan, tidak ada orang yang dinomorduakan dan tidak ada seorangpun yang bisa didiskriminasikan.
            Melihat situasi yang terjadi sekarang, nampaknya kita sedang memasuki era dimana segala sesuatu diakomodir berdasarkan kerangka berpikir yang dangkal. Kita tidak pernah benar-benar melibatkan nurani dalam setiap pandangan politik kita, tapi lebih pada pengutamaan jargon politik, kekuatan yang dimiliki, kekuasaan dalam menguasai orang lain yang pada akhirnya proses ini telah merampas kepedulian rakyat dan berusaha mengkotak-kotakan status di tengah masyarakat kita.
            Dalam pandangan saya, belum ada figur yang benar-benar mengayomi masyarakat madani kita. Para pemimpin sekarang terjebak dengan euforia kenikmatan klasik yaitu keinginan memiliki kekuasaan, uang dan popularitas. Tidak bisa dipungkiri, setiap pemimpin yang ingin berkuasa tergerak dengan ketiga kriteria klasik yang ingin mereka genggam. Slogan ingin membangun dan mensejahterakan rakyat hanyalah pernyataan kelas kedua dalam konsep mereka di samping kepentingan pribadi. Sebagai orang yang awam politik, saya tidak tahu apakah ini teori politik yang mereka anut berdasarkan konsep politik seperti yang dicanangkan mula-mula oleh Aristoteles bahkan Plato, ataukah teori politik yang dianomalikan mereka? Sehingga seharusnya tidak ada yang mengistilahkan politik itu kotor. Bahkan yang sangat disayangkan juga, demokrasi sepertinya menjadi jualan dan dibeli atau dibayar oleh oknum-oknum yang tidak mengerti sama sekali berdemokrasi tapi menjadikan demokrasi sebagai tunggangan untuk berkuasa.
            Ini terlihat dalam money politic yang selalu disertakan dalam  setiap pesta demokrasi, padahal sudah ada undang-undang yang mengatur ini sebagai suatu pelanggaran, tapi nampaknya para politisi dan birokrat kita bebas berekspresi dengan kekeliruan dan kejahatan mereka. Bagi saya, seorang figur pemimpin dan calon pemimpin masyarakat yang memainkan money politic tidak layak dipilih dan harusnya masyarakat tidak memilih mereka karena mereka tidak sama sekali memberikan pendidikan politik dalam berdemokrasi yang baik. Seorang pemimpin yang baik tidak harus mengkampanyekan dirinya (walau memang diijinkan) di setiap spanduk atau baliho yang ada di tengah kota atau setiap jalan sebagai bagian kampanye popularitasnya. Tapi seharusnya mereka harus lebih mampu memperlihatkan kebijaksanaan mereka dengan pernyataan-pernyataan dan tindakan yang lebih fundamental yang dapat membangun karakter masyarakatnya, dalam arti: sebagai panutan, dia harus tetap rendah hati dengan tidak merendahkan martabatnya dengan popularitas kosong tapi bergerak hanya dengan kinerja yang memukau dan bukan sebagai politisi karbitan. Dan juga segala tindakan yang dilakukannya benar-benar untuk kepentingan kemaslahatan masyarakat banyak, bukan untuk memperkaya diri sendiri.
            Dalam beberapa tahun berkuasa, seorang pemimpin yang sudah memiliki harta yang cukup banyak dengan bertebaran di setiap tempat (padahal sebelumnya dia tidak memiliki banyak harta), tidak layak disebut seorang pemimpin karena mereka menumpuk kekayaan mereka untuk lebih haus berkuasa dan ini harus dicegah oleh rakyat jika tidak apa yang dimiliki oleh mereka akan dirampok oleh pemimpinnya. Mahatma Gandhi pada saat menjadi Perdana Menteri India adalah seorang yang luar biasa sederha. Ketika ditanyakan pada waktu itu mengapa dia hanya makan sehari sekali dan itu pun hanya dengan sedikit jeruk nipis dan madu. Dia menjawab “saya ingin merasakan solidaritas dengan rakyat saya yang kelaparan”. Apakah jawaban ini adalah salah satu ciri gaya kepemimpinan seorang pemimpin besar? Kalau demikian halnya, kita tidak akan pernah menemukan lagi seorang  pemimpin yang berpikir seperti itu di Sulut atau di mana saja karena mereka tidak pernah solidaritas dengan rakyat karena hidup mereka berkelimpahan harta selalu ingin dilayani bukannya melayani. Para pemimpin daerah hanya selalu berlomba ingin berkuasa dan memperkaya diri mereka sendiri dengan cara-cara yang tidak halal tanpa melihat rakyatnya menderita di luar sana. Maka, jangan heran kalau pemimpin seperti Gandhi akan dikenang seluruh dunia sebagai pemimpin hebat sepanjang masa dan para pemimpin sekarang hanyalah bagian dari sejarah yang lewat sambil lalu dan tidak akan pernah dikenang, kalau dikenang hanyalah dalam konteks lokal saja itupun hanya bagi sebagian rakyat.
            Mudah-mudahan pemilukada yang baru saja berakhir boleh mendapat pemimpin yang tidak haus akan kekuasaan tapi benar-benar memimpin dengan nurani dan tanggungjawab terhadap rakyatnya. “Walaupun sulit untuk mendapatkan pemimpin seperti itu”.

PENDIDIKAN KARAKTER

Oleh : dr. Adi Tucunan, M.Kes


Berita mengenai tindakan kriminal yang dilakukan baik oleh masyarakat kecil sampai pada masyarakat kelas atas terus terngiang-ngiang di telinga kita setiap harinya. Media massa maupun elektronik beramai-ramai membombardir pikiran kita dengan begitu banyak kejahatan dan kekerasan yang terjadi setiap waktu. Bahkan kita sendiri sepertinya sudah tidak peka lagi dengan pemberitaan seperti ini dan menganggap sebagai sesuatu yang biasa terjadi. Dari pencurian kelas teri seperti mencopet di jalanan sampai pada pencurian kelas kakap alias korupsi berjemaah selalu menghiasi wajah pertelevisian dan media massa kita. Dunia pendidikan pun yang seharusnya mengajarkan kita berakhlak baik malahan ikut-ikutan terjerumus dengan persoalan-persoalan yang berbau kriminalitas seperti tawuran pelajar dan mahasiswa, pesta narkoba  dan banyak kejahatan lainnya yang menghiasi bumi pertiwi Indonesia. Dan memang kenyataan yang kita hadapi sekarang tidaklah hanya dihadapi oleh bangsa kita, tapi ini sudah menjadi sesuatu yang universal sifatnya, karena menyentuh hampir setiap belahan dunia. Saya mengkuatirkan dengan adanya dekadensi moral seperti inilah yang membuat bangsa kita menjadi lemah dan sulit bersaing di tingkat global dalam persaingan yang lebih maju. Tidak usahlah kita berbicara dulu mengenai kemajuan teknologi, perekonomian, penguasaan Iptek yang merupakan syarat untuk menjadi suatu negara yang maju. Tapi mari kita lihat dulu akar permasalahan yang dihadapi bangsa kita sehingga tidak cenderung bergerak ke depan tapi malahan mundur. Gambaran bahwa negara kita menjadi salah satu yang paling korup di dunia merupakan bukti sahih lumpuhnya martabat kita sebagai bangsa dan kita kehilangan identitas diri dalam menguasai masalah-masalah moral. Apa yang kita tanam selama ini, ternyata membuahkan hasil. Alih-alih menghasilkan SDM handal dalam Iptek, untuk membuahkan manusia Indonesia yang tahu bagaimana membuang sampah pada tempatnya, menjadi pegawai dan karyawan yang rajin dan jujur saja, kita tidak berhasil. Jadi tidaklah mengherankan kalau kualitas SDM (Human Development Index) Indonesia berada di bawah Vietnam, apalagi dengan Malaysia dan Singapura.
            Thomas Lockona, profesor pendidikan dari Cortland university, mengungkapkan bahwa ada “tanda-tanda saman” yang harus diwaspadai karena kalau tanda-tanda itu sudah ada, sebuah bangsa akan menuju jurang kehancuran. Tanda-tanda itu adalah : 1) meningkatnya kekerasan di kalangan remaja, 2) penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk, 3) pengaruh per-group yang kuat dalam tindak kekerasan, 4) meningkatnya perilaku yang merusak diri seperti narkoba, seks bebas dan alkohol, 5) semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk, 6) penurunan etos kerja, 7) semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru, 8) rendahnya rasa tanggungjawab individu dan warga negara, 9) ketidakjujuran yang begitu membudaya, 10) rasa saling curiga dan kebencian di antara sesame.
            Kita saat ini menghadapi krisis yang paling sulit dalam sejarah peradaban bangsa kita, di mana upaya mempertahankan nilai-nilai yang menjadim karakter dari suatu bangsa tidak lagi dilihat dari sudut pandang kemanusiaan dan sebagai sesuatu yang fundamental, tapi semuanya diukur dari materi yang membentuk pola pikir yang mengarah pada paham hedonism di mana nilai-nilai yang baik dikikis sampai pada taraf terendah saat ini. Masyarakat kita masih suka bereaksi secepat kilat dalam menghadapi pemberitaan yang negatif ketimbang menanggapi hal-hal yang positif, mereka begitu cepat emosional dalam menghadapi berbagai persoalan. Akibatnya, risiko terjadi konflik baik itu antar etnis, agama, sesama saudara mudah sekali meletup hanya dengan persoalan kecil. Seolah-olah merekalah yang menjadi standar apa yang benar sehingga yang lain harus mengikuti kemauan mereka. Konflik kepentingan di berbagai wilayah pilkada menjadi bukti kongkritnya, betapa masyarakat kita memiliki kecerdasan yang rendah karena hanya memikirkan dirinya sendiri. Kaum penguasa juga tidak kalah garangnya, pemerintah dan legislatif membangun konflik mereka sendiri sehingga harus main jotos-jotosan karena melakukan ‘perang sengit’, semuanya demi kepentingan kelompok dan pribadinya sendiri. Francis Fukuyama mengatakan, ‘bangsa yang bisa maju adalah yang mempunyai social capital yaitu high trust society’. Ciri-cirinya adalah masyarakat yang individu-individunya layak dipercaya. High trust society adalah karakter bangsa yang nilai-nilai integritas, kerjasama, tenggangrasa, etos kerja tinggi, dan amanah (jujur dan bertanggungjawab) menjadi corak perilaku kehidupan sehari-hari.
            Kalau kita mau menciptakan bangsa yang berdemokrasi tinggi, maka kita harus menjunjung tinggi dulu karakter yang kuat dari masyarakat kita yaitu melalui pendidikan karakter jangka panjang dan terus menerus. Untuk apa kita menciptakan para sarjana dan saintis yang hanya menguasai bidang teknokrat saja tapi lumpuh akhlaknya? Bukankah lebih baik dan lebih utama kita membangun karakter yang beradab dulu dengan pendekatan pada persoalan humaniora itu sendiri? Thomas Friedman dalam bukunya The Lexus and the Olive Tree (1999) mengatakan, modal dasar untuk bersaing di pasar global adalah free market democracy, yaitu negara demokratis yang bersih dan bebas dari korupsi, yang pada intinya bermuara pada karakter juga. Sebenarnya saat ini, kita belumlah menjadi negara demokrasi, tapi negara kleptocracy (kebalikan dari demokrasi), yang menurut dia tidak akan survive dalam persaingan global. Karakteristik dari kleptokrasi itu mirip dengan keadaan di Indonesia seperti KKN (Korupsi, kolusi dan nepotisme) yang merajalela. Masyarakat demokratis adalah bangsa yang berkarakter, karena menurut Peter Berger, untuk membentuk masyarakat yang demokratis harus dilakukan oleh para demokrat sejati. Menurutnya, seorang demokrat sejati adalah yang mempunyai karakter terbuka, jujur, etos kerja tinggi, bertanggungjawab, berintegritas, menghormati orang lain dan mempunyai kepedulian tinggi. Apakah kita sebagai suatu masyarakat yang hidup di abad ke-21 ini sudah mencerminkan stereotip komunitas demokrat seperti di atas? Kalau kita belum mempunyai ciri-ciri seperti di atas maka bangsa kita belum layak membangun bangsa yang demokratis dengan tingkat kepercayaan yang tinggi.
            Pendidikan yang kita agung-agungkan untuk mencetak manusia yang berbobot dari segi kualitas ilmu pengetahuan, nyatanya gagal mengawal kecerdasan kita yang lain yaitu kecerdasan emosi. Karena memang pendidikan kita tidak terbiasa melakukan hal itu pada taraf yang lebih dalam lagi, sehingga pada akhirnya tujuan akhir dari pendidikan untuk membentuk manusia-manusia berbudi pekerti luhur hanyalah retorika dan slogan dunia pendidikan, tanpa ada hasilnya. Bukti terus memperlihatkan, banyak sarjana kita yang tidak memiliki kapasitas karakter yang hebat layaknya kehebatan ilmu yang mereka sandang, karena mereka dicetak untuk menguasai murni hal-hal yang mekanistik dan tidak mau ‘ambil pusing’ dengan tujuan-tujuan luhur dari eksistensinya sebagai ilmuwan dan manusia sekaligus, yang memiliki sudut pandang yang komprehensif terhadap perbagai persoalan. Bahkan banyak lulusan perguruan tinggi dari luar negeri sekalipun, baik itu pada level master maupun doktor, tidak menjadi jaminan suatu institusi pendidikan itu dapat maju. Karena banyaknya bukti yang mendukung bahwa kita gagal menjalin komunikasi dan dialog di antara berbagai disiplin keilmuan untuk menghadapi persoalan di tengah-tengah masyarakat kita. Tidak ada gunanya reputasi diakui hanya pada konteks akademik atau ilmiah tapi tidak memberikan sumbangsih apa pun pada masalah-masalah kemasyarakatan. Karena menyadari bahwa dewasa ini orang tidak bisa lagi terus berada di wilayahnya atau bidangnya sendiri, pikiran merespek memperhatikan dan menyambut berbagai perbedaan di antara individu dan antara kelompok manusia, berupaya memahami orang atau kelompok lain, dan berupaya bekerja secara efektif bersama mereka. Dalam suatu dunia di mana semuanya saling terhubung ini, sikap tidak toleran dan sikap tidak mau merespek tidak lagi mendapat tempat.
            Oleh karena itu diperlukan perubahan mendasar dari paradigma pendidikan kita, yang tadinya sangat cognitive oriented (penggunaan otak kiri yang dominan), kepada pengikutsertaan pendidikan karakter (otak kanan). Pendidikan karakter melalui definisinya adalah pendidikan untuk membentuk kepribadian seseorang melalui pendidikan budi pekerti, yang hasilnya terlihat dalam tindakan nyata seseorang, yaitu tingkah laku yang baik, jujur, bertanggungjawab, menghormati hak orang lain, kerja keras dan sebagainya (Thomas Lickona). Komponen penting yang juga harus diperhatikan pada pendidikan karakter adalah bagaimana menumbuhkan rasa keinginan untuk berbuat baik (desiring the good). Keinginan untuk berbuat baik adalah bersumber dari kecintaan untuk berbuat baik (loving the good). Prof. George Boggs meneliti tentang adanya 13 indikator keberhasilan seseorang dalam dunia kerja yaitu (1) jujur, (2) tepat waktu, (3) biasa ,menyesuaikan diri dengan orang lain, (4) bisa bekerja sama dengan atasan, (5) menjalankan tugas dan kewajibannya dengan baik, (6) motivasi tinggi untuk memperbaiki diri, (7) percaya diri, (8) mampu berkomunikasi dan menjadi pendengar yang baik, (9) mampu bekerja mandiri dengan supervisi minimum, (10) tahan terhadap stress, (11) mempunyai kecerdasan sesuai kebutuhan, (12) bisa membaca dengan pemahaman memadai, (13) mengerti dasar-dasar berhitung. Ternyata 10 dari 13 (77%) indikator tersebut adalah menyangkut karakter yang merupakan dominan domain otak kanan dan sisanya (23%) yang menyangkut otak kiri.
            Memang tugas untuk menjalankan pendidikan karakter ini sangatlah sulit dan ini membutuhkan waktu bertahun-tahun lamanya. Tapi ketimbang kita membuang-buang waktu dan uang hanya dengan mengejar sasaran kualitas pendidikan pada tingkat penguasaan Iptek saja, maka ada baiknya orientasi pendidikan sekarang harus bertumpu pada bagaimana kita menjadi manusia seutuhnya (how to be a humankind). Saya yakin, dalam beberapa tahun keberhasilan kita  membangun karakter yang kuat lewat pendidikan terus menerus kita akan menuai hasil yang optimal dari itu semua. Kita dapat menyatukan semua sumberdaya yang ada di negeri ini untuk menciptakan manusia-manusia yang unggul, bukan menciptakan IQ yang tinggi tapi EQ yang terdepan. Sehingga persoalan bangsa yang paling rumit sekalipun akan dapat diatasi dengan itu semua.

Paradoks Sebuah Gelar

Oleh: dr. A. Tucunan, M.Kes


“Satu-satunya hal yang mengambat pembelajaran saya adalah pendidikan saya” (Albert Einstein)
            Pada saat baru memasuki program pascasarjana untuk studi lanjut pada program Magister Kesehatan beberapa tahun lalu, saya mengetahui adanya kerjasama antara Pemerintah Kabupaten Talaud dan Unsrat untuk mendidik putra asli daerah menyelesaikan pendidikan strata dua mereka. Diperkirakan ada sejumlah puluhan orang yang mengambil pendidikan magister di berbagai program studi yang ada. Namun yang menggelitik saya adalah ketika banyak mahasiswa pascasarjana yang mengambil kuliah regular, mahasiswa-mahasiswa kandidat magister dari utusan kabupaten tersebut hanya menjalankan separuh (atau mungkin kurang) perkuliahan dari waktu yang ditetapkan untuk menyelesaikan studi. Bukannya mempolemikkan sistem pendidikannya, tapi motivasi di balik perutusan mahasiswa untuk belajar S-2 hanya untuk mengejar gelar adalah sesuatu yang patut dipertanyakan keabsahannya. Apalagi yang diutus untuk studi lanjut ini adalah para abdi negara dan masyarakat yang nantinya dipersiapkan untuk menjadi pelayan publik. Selain di universitas di Sulut, ada juga universitas di luar daerah bahkan luar negeri yang menjalin kerjasama dengan pemerintah seperti IPB dan Unpad. Pada waktu lalu ada salah satu kandidat doktor dari kabupaten tersebut memperlihatkan profilnya di surat kabar terbesar di Sulut dengan begitu bangga karena memakai satu halaman penuh dari surat kabar tersebut (layaknya seorang yang mengiklankan diri dalam kampanye). Saya merasa ada sesuatu yang hilang dari seorang calon cendekiawan seperti ini dan meragukan kapasitas dan integritasnya sebagai seorang yang memilii karakter ‘ilmuan’ atas ‘pengiklanan’ dirinya. Bagaimana tidak? Ingin meraih gelar doktor saja sudah begitu angkuhnya (padahal orang berilmu itu harusnya seperti ilmu padi yang makin berisi makin merunduk), apalagi kalau menjadi pemimpin. Semakin tinggi ilmu yang diraih orang itu, apalagi kalau sudah bergelar doktor (atau lulusan luar negeri bergelar Ph.D) bahkan profesor, diharapkan ia mampu memandang sesuatu secara komprehensif dari berbagai sudut pandang, sehingga ia akan mengerti kompleksitas dari suatu permasalahan dan semakin hati-hati ia mengeluarkan suatu pernyataan; akhirnya semakin bijak ia berkata dan bertindak. Karena hakikat seorang pemikir atau philosopher, menurut Socrates adalah seorang yang mencintai dan mencari kebenaran.
Tapi sayangnya, demokratisasi pendidikan tinggi sekarang lebih menjerumuskan lagi karena menciptakan “elit missal” (suatu contradiction in terminis), sejumlah orang dengan berbagai gelar tidak mempunyai keahlian dan berpikir dangkal. Mungkin negara kita ini akan lebih banyak mendapat masalah jika ada banyak sarjana atau doktor tak bermutu dan sombong karena gelarnya. Dengan berbagai dalih ingin mencetak tenaga dan sumber daya manusia yang mumpuni, pemerintah nampaknya melakukan pembodohan terhadap aparat dan masyarakatnya. Bagaimana tidak? Proses pendidikan yang seharusnya bersifat individu dijadikan tanpa kualitas karena proses mendapat gelar ini seperti sudah di ‘massalisasi’. Masalahnya, menurut Ratna Megawangi (Direktur Eksekutif Indonesian Heritage Foundation), kalau kita sudah berbicara massal, maka tentunya ada satu hal penting yang harus dikorbankan yaitu kualitas. Padahal kalau kita kembali lagi pada hakikat fungsi pendidikan, universitas adalah tempat untuk mendidik manusia untuk dapat berpikir abstrak dan komprehensif. Pemahaman dan penguasaan hal-hal yang teknis dan kongkrit memang diperlukan, tetapi ini bukan tujuan utama melainkan by products. Artinya, fungsi pendidikan tinggi bukan semata-mata untuk menciptakan manusia-manusia pekerja yang ahli dalam bidang-bidang teknis dan kongkrit, tapi jauh lebih daripada itu.
Menurut hemat saya, ini adalah tragedi pendidikan berkelanjutan, karena kita begitu mengidentikkan gelar seseorang dengan kapasitas dan kemampuan yang dimilikinya, padahal tidak sama sekali. Yang lebih parah lagi, pendidikan yang ditujukan untuk mencerdaskan manusianya tapi ternyata digunakan oleh para birokrat maupun pejabat di sana untuk memperkuat jabatan dan status kepemimpinannya. Pembaca yang terhormat, pasti mengerti maksud saya, karena sudah tentunya kejahatan para birokrat yang ada sekarang itu bukanlah hasil dari pendidikan yang didapatnya karena tujuan pendidikan di manapun adalah sama yaitu mencetak manusia-manusia yang berbudi luhur, bukan menjadi koruptor dan penjarah harta rakyat dan tidak kapabel melayani rakyat, bukan? Apalagi pada saat Pilkada, berapa banyak pembohongan yang harus diterima rakyat dari para kandidat baik itu eksekutif maupun legislatif. Sejak lama saya sudah mendengar adanya para mafia pendidikan yang berusaha memperjualbelikan status keilmuan seseorang. Bahkan ditengarai ada juga para public figure bahkan tokoh politik dan pemimpin masyarakat yang terbuai dengan gelar yang ingin dimiliki tanpa melalui proses pendidikan. Kita tidak perlu heran dengan kenyataan bahwa masyarakat kita gagal memilih dan mengetahui kapasitas pemimpinnya yang sebenarnya. Betapa tidak? Instansi yang seharusnya dipimpin oleh orang yang tepat tapi justru kecolongan dengan diduduki oleh orang-orang yang tidak kompeten baik dari segi skill yang mumpuni ataupun yang lebih parah tidak mempunyai karakter dan jiwa seorang pemimpin dan pekerja yang bertanggungjawab. Mungkin para pemimpin kita di sana berasumsi bahwa dengan gelar magister dan doktor yang didapat oleh bawahannya akan lebih memajukan kualitas pembangunan daerah. Tapi lihat saja hasilnya, negara kita yang begitu penuh dengan para sarjana mulai dari strata satu sampai strata tiga bahkan banyak juga yang bergelar profesor, tapi nyatanya kita tidak maju-maju sejak dulu. Mengapa? Orang-orang seperti ini cenderung degree-snoberry, merasa mempunyai gelar biasanya akan bersifat sombong, ingin terlihat pintar sehingga tidak prudence (bijaksana).
Semua masalah jadi gampang, sampai urusan negara pun digampangkan. Kita lihat negara tetangga kita seperti Malaysia dan Singapura, jumlah universitas dan sekolah tinggi di sana bisa dihitung dengan jari dan tidak sebanyak kita di Indonesia. Demikian pula dengan lulusan sarjananya lebih sedikit dibandingkan kita, tapi mengapa bangsa kita tidak merangkak maju malahan makin merosot? Forum Rektor baru-baru ini mengemukakan bahwa bangsa kita ‘nyaris gagal’. Tahun 2008 lalu, pernah ada  salah seorang wisudawan di salah satu fakultas di Unsrat menyelesaikan pendidikannya hanya butuh waktu 3 tahun saja dan diberitakan di salah satu media cetak serta diberi label mahasiswa jenius. Ini salah kaprah yang mendasar karena kita menilai standar kejeniusan dari prestasi akademik seseorang, padahal tidaklah seperti itu. Bukan berarti dengan predikat cum laude dan akselerasi pendidikan, lalu dianggap lulusan itu hebat dan akan berhasil di dunia kerja. Jangan-jangan reputasi sebagai mahasiswa hebat hanya sampai disitu dan dia tidak memiliki partisipasi yang lebih besar bagi kemajuan kehidupannya. Menurut Daniel Goleman (dalam buku larisnya Emotional Intelligence), kecerdasan akademik sedikit saja kaitannya dengan kehidupan emosional, sehingga praktis kecerdasan akademik (IQ) hanya menyumbang kira-kira 20 persen bagi faktor-faktor yang menentukan sukses dalam hidup. Taufik Pasiak juga dalam salah satu bukunya yang menjadi bestseller menceritakan bagaimana banyak rekan sejawat dokter yang lulus dengan tepat waktu dan malah ada yang lulus cum laude, tapi tidak terlalu berhasil dalam karirnya, dibandingkan dengan dokter-dokter yang lulus paling lama dan bahkan ada yang hampir drop out. Ini artinya ada proses pembelajaran di luar konteks pendidikan formal yang sering kita dewa-dewakan itu yang lebih berperan dalam menciptakan manusia yang lebih unggul. Bukankah Bill Gates, orang terkaya di dunia adalah produk drop out universitas? Begitu pula dengan Mark Zuckeberg sang pemilik jejaring sosial facebook adalah drop out dari universitas yang sama? Tapi kenapa mereka begitu sukses?
Bukannya mendiskreditkan pendidikan formal (dimana saya juga adalah produk di dalamnya), tapi seperti pernyataan Albert Einstein bahwa pendidikan menghambat proses pembelajaran, saya percaya bahwa kita seharusnya membuka diri  terhadap pembelajaran yang jauh lebih penting daripada pendidikan formal, misalnya dengan pendidikan karakter. Sehingga kita tidak akan mendapati diri kita terjebak dengan perilaku degree-snoberry yang hanya bangga dengan gelar kita tapi kita tidak mampu membangun nilai-nilai luhur daripada pendidikan itu sendiri. Kalau kita hanya mengidentikkan pendidikan formal itu dengan meraih gelar dan menguasai sains lalu dengan itu kita dapat memajukan suatu bangsa, maka disitulah letak kekeliruan kita. Menurut Howard Gardner (dalam bukunya Five Minds for the Future), yang tidak kalah berbahayanya, banyak orang mengira bahwa bidang-bidang pengetahuan yang lain harus dipelajari dengan metode dan pembatasan yang sama dengan sains. Pakar fisika agung Niels Bohr pernah mengatakan hal ironis ini: “ada dua macam kebenaran, kebenaran yang dalam dan kebenaran yang dangkal, dan fungsi dari sains adalah menghapuskan kebenaran yang dalam”.
Ketika suatu daerah berlomba-lomba mengirim para sarjananya mendapat gelar setinggi mungkin, itu tidak berarti adanya jaminan bahwa daerah tersebut akan mengalami kemajuan ke depan. Alasannya sederhana, orang-orang kita tidak terbiasa dengan good will sehingga apa pun jabatan yang dia pegang saat dia kembali ke daerah, ilmu yang dia dapatkan hanya dipakai untuk menguatkan jabatan politisnya, sekalian menjadi kaki tangan penguasa apalagi yang otoriter. Saya menyangsikan pendidikan yang kita tempuh dapat benar-benar dipakai untuk kemaslahatan masyarakat banyak apalagi dikatakan sebagai ‘pelayan masyarakat’, karena semua itu ditempuh hanyalah sebatas untuk meraih gelar dan memuaskan hegemoni kekuasaan. Dan kalau sudah begini jadinya, maka tujuan pendidikan itu tidak tercapai karena hanya seperti memenuhi quota kerja dan hanya sebuah narsisme kontemporer. Karena rakyat melihat tindak tanduk aparat pemerintah berdasarkan tingkah lakunya dan kinerjanya. Dan di saat seorang pejabat publik terlibat skandal (khususnya korupsi), maka tidak ada satu masyarakat pun yang akan membela dia karena status dan gelarnya, tapi akan jadi mendapat celaan dari masyarakat sebagai figur yang tidak bertanggungjawab.
Seorang yang meraih gelar dari sebuah universitas, seharusnya dia dapat mempertanggungjawabkan gelar tersebut secara moral, berlandaskan pada kebajikan hati nuraninya. Karena tidak ada satu pun yang ada di dunia ini dapat dipertahankan dalam keabadian kecuali nurani yang luhur itu sendiri.

KEGAGALAN DI BALIK ‘KERTAS RESEP’

Oleh dr. Adi Tucunan, M.Kes


Seorang pasien yang baru keluar dari tempat praktek dokter mengeluh karena dia hanya diladeni dengan kertas resep tanpa sepata katapun dari dokter yang memeriksanya dan selanjutnya dia harus membayar ratusan ribu yang harus dia tebus atas sikap dingin dan obat yang diresepkan tersebut. Selalu ada saja hal seperti ini yang terjadi dalam dunia medis kita, dimana pasien hanya diperlakukan sebagai objek mata pencaharian bagi ‘sang dokter’. Kasus di atas hanyalah salah satu dari sebagian besar kasus yang menjadi komplain terhadap dunia medis kita saat ini. Dan yang menyedihkan, pada kunjungan pertama pasien diharuskan datang sampai beberapa kali untuk mendapat terapi lanjut sehingga harus mengeluarkan banyak ongkos untuk pengobatannya, tanpa memikirkan latar belakang ekonomi sang pasien dan keluarga. Ironis memang, dengan bersembunyi di balik alasan ilmiah sang dokter yang harus mengobservasi pasien sebagai bentuk terapi lanjutan, tapi kita bisa menduga cara-cara seperti ini hanyalah upaya untuk memberatkan beban pasien dan keluarga.
            Sudah bukan rahasia umum lagi, kalau seorang dokter menjalankan profesinya demi profit ekonomi yang lebih baik. Hal ini sangat bertolak belakang dengan nilai-nilau luhur dari profesi dokter yang didengung-dengungkan oleh Bapak Kedokteran Hipocrates sejak mula-mula ilmu kedokteran berkembang. Memang sebagai seorang professional, dokter dibayar untuk jasa-jasanya. Tapi yang menjadi persoalan di sini ialah kalau dalam menjalankan  profesi ini, itikad dan nilai luhur dari profesi itu telah dibalikkan 180 derajat menjadi nilai ekonomis semata, sehingga muncullah cara berpikir dari para praktisi medis ini yang menganggap bahwa dunianya hanyalah berkisar pada masalah sakit penyakit dan finansial yang lebih baik semata. Inilah alasan mengapa dunia medis kita saat ini tengah disorot tajam oleh publik, yang di satu sisi marah atas ketidakramahan kita dan di sisi lain pasrah dengan ketidakberdayaannya, yang setiap saat siap dirugikan oleh konsep dan paradigma yang keliru seperti ini. Sungguh miris memang, melihat banyaknya tuntutan malpraktik yang dilakukan oleh pasien maupun keluarga terhadap dokter maupun  institusi medis lainnya. Alasannya sederhana saja mengapa ada tuntutan seperti ini pada orang-orang yang sebenarnya membantu kesehatan mereka, yaitu karena di sana sudah tidak ada lagi rasa hormat yang luhur pada nilai-nilai kemanusiaan. Pandangan kita dibuat berkabut dengan kemilaunya ‘harta dunia’ dan ‘arogansi ilmiah’ yang tidak tanggung-tanggung bertindak bak ‘dewa penyelamat’ yang sebenarnya kalau ditinjau dari konsep penyembuhan secara utuh dan paradigma sehat menurut public health, mereka adalah para praktisi yang gagal.
            Pernah suatu ketika saya menggantikan praktek dokter dari teman saya dan mendapat seorang pasien yang ternyata adalah pegawai dari instansi farmasi, yang katanya dia kenal dengan banyak dokter bahkan dokter spesialis karena selalu berurusan dengan hal-hal yang berbau jasa obat-obatan. Hanya dengan sedikit komunikasi dengannya yang mungkin juga di dalamnya tidak ada kaitannya dengan keluhan yang dia sampaikan, kami bercerita singkat tentang beberapa hal dalam dunia medis, secara khusus hal-hal yang agak tidak sejalan dengan cara berpikir dan bekerja para praktisi medis konvensional saat ini. Setelah selesai basa-basi komunikasi medisnya, yang mungkin bagi dokter lain akan dianggap pembicaraan ini sebagai sesuatu yang konyol, dia pamit pulang dan di depan pintu sebelum dia berlalu dari hadapan saya, dia mengatakan sesuatu yang menurut saya mungkin ini menjadi sesuatu yang langka dalam dunia medis kita. Dia mengatakan kepada saya, seandainya ada 10 orang (tanpa melebih-lebihkan) dokter yang berpikir seperti saya, maka menurutnya pasti Menteri Kesehatan senang. Ini bukanlah kesombongan yang harus saya tunjukkan, tapi ada satu hal yang membuat saya berpikir mengapa pasien ini mengatakan seperti itu. Padahal menurut saya, apa yang saya lakukan terhadapnya hanyalah komunikasi biasa saja, bertukar pikiran dengan sang pasien, tapi itu dianggap sebagai sesuatu yang nampaknya ‘mahal’.  Saya berpikir dan bertanya-tanya apakah memang di luar sana telah banyak terjadi erosi yang semakin dalam dari cara kita sebagai praktisi medis berpikir dan bertindak dalam konsep-konsep nilai luhur kita, sehingga memperlakukan sang pasien pun kita tidak mampu.
            Sebagai dokter memang kita tidak diajarkan bagaimana cara mengasihi pasien kita karena sebagian besar di sekolah kedokteran, kita hanya diajarkan patologi penyakit dan bagaimana cara menangani penyakit itu, bukan bagaimana cara menangani orang yang mengalami penyakit itu. Itulah masalahnya, mengapa kita terus mengalami degradasi yang semakin dalam, karena model yang kita kembangkan dalam praktek-praktek kita terlalu bersifat ilmiah, mekanis dan kaku pada penerapannya. Sedangkan kalau mau jujur, kita berhadapan dengan orang-orang hidup dan bukan penyakitnya. Sehingga seharusnya yang terngiang-ngiang dan menjadi jelas bagi kita adalah apa yang disampaikan oleh Hipocrates sebagai Bapak Kedokteran yaitu “saya lebih suka mengetahui orang macam apa yang menderita penyakit tersebut, daripada mengetahui jenis penyakit apa yang diderita orang tersebut”. Dan pada akhirnya, kertas resep yang kita tulis akan mempunyai makna yang mendalam lebih daripada hanya sekedar goresan ilmiah. Semoga!

BELENGGU OTORITAS DUNIA MEDIS

Penulis : dr. A. Tucunan, M.Kes
(Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Unsrat)


“Takkan pernah saya lupakan, seorang wanita yang datang kepada saya dalam keadaan gemetar, dengan air mata berlinang, dan hampir tidak dapat berbicara karena amarah. Ia baru saja kembali dari unit perawatan intensif di rumah sakit saya, dimana Ibunya, pasien saya sedang sekarat. Ibunya tidak sadarkan diri dan ditunjang dengan sistem-sistem penunjang kehidupan, dan tak ada perawatan yang efektif. Sang putri baru saja diusir dari samping tempat tidur Ibunya karena waktu berkunjung telah usai: kunjungan di luar waktu berkunjung, demikian ia diberitahu, adalah “menentang kebijakan” dan akan “mengganggu”. Ibunya meninggal malam itu sendirian. Bagi wanita ini, terpisah dari Ibunya yang sedang sekarat tampaknya sangat merendahkan martabatnya. Ia siap mengutuk keseluruhan dunia medis modern, bukan saja atas ketidak-efektifannya, melainkan juga atas ketidak-berperasaannya. Ia tetap dendam terhadap sistem yang menurutnya tidak efektif dan juga tidak peduli.” (dikisahkan oleh Larry Dossey, M.D.).
            Pengalaman ini mencerminkan begitu banyak alasan mengapa sekarang ini orang menganggap pemeliharaan kesehatan modern sebagai tidak manusiawi, tidak simpatik, dingin, tidak peduli, terlalu mekanikal dan teknikal, terlalu sok jadi pahlawan dan seringkali terlambat.
Ketika Anda atau keluarga Anda mengalami gangguan fisik atau sakit penyakit, maka Anda akan berusaha datang untuk meminta bantuan ke rumah sakit, klinik atau dokter pribadi untuk meringankan gejala penyakit Anda. Tapi pada saat Anda datang ke sana, dengan harapan untuk memulihkan kondisi Anda maka Anda akan merasa kecewa dengan berbagai tindakan yang Anda terima karena merasa tidak puas dengan perlakuan yang Anda dapat. Bagaimana tidak? Ketika Anda mengharapkan segala sesuatu berjalan dengan lancar dan mendapat kepuasan dari dokter Anda tapi yang Anda terima di sana adalah suasana yang sangat dingin dan bahkan terasa arogan dari pihak sang dokter maupun asistennya. Anda merasa sepertinya Anda tidak diperlakukan selayaknya sebagai manusia.
            Kalau deskripsi singkat di atas benar-benar yang Anda rasakan, maka itu akan menjadi suatu tragedi dalam dunia medis kita. Mengapa? Karena sebagai pasien sekaligus manusia yang memiliki nilai-nilai yang harus dijunjung tinggi sebenarnya Anda mendapat perlindungan oleh Undang-undang Kedokteran dan menerima hak Anda. Perlakuan yang kurang menyenangkan seperti di atas memang sering terjadi di mana saja baik di Indonesia secara khusus maupun di seluruh dunia, apalagi oleh mereka-mereka yang berpandangan murni konvensional dan mekanistis dalam dunia medis. Terkesan oleh pasien sendiri, “sang penyembuh” mereka lebih menjadikan mereka sebagai sumber pendapatan ketimbang subjek kemanusiaan itu sendiri. Di dalam istilah yang lebih filosofis, bukannya memandang sang pasien sebagai sesama manusia, sang pasien terancam menjadi objek di mata sang dokter. Hal ini bukan saja merampas keberadaan hakiki sang pasien, melainkan juga memutuskan sang dokter sendiri dari sumber kehidupan serta kasih di dalam karyanya.
            Sebagai orang yang juga dididik dalam dunia medis, saya berusaha mengungkapkan keprihatinan ini dan ingin mengajak Anda sebagai individu-individu yang bergerak dalam dunia medis maupun sebagai masyarakat biasa, menelaah dan mengkritisi situasi dan gambaran dunia medis kita saat ini dalam konteks lokal maupun global. Terlepas dari perannya yang ‘hingar bingar’ sebagai saintis sekaligus ‘dewa penolong’, dunia medis modern kita terlalu mekanikal, jauh dan dingin. Kita tidak meluangkan waktu yang cukup dengan pasien-pasien; kita hanya fokus kepada tubuh mereka dan menghindari pertanyaan-pertanyaan menyangkut makna, menyerahkan pertanyaan-pertanyaan seperti itu kepada psikolog, pendeta dan imam. Tetapi sebagian besar dokter terus mengandalkan metode-metode yang didasarkan pada fisik yang paling kita kenal, membenarkan pendekatan ini dengan bukti dan keefektifannya.
Sebagian besar kekecewaan publik terhadap dunia medis modern terletak pada gagalnya praktisi medis untuk mengakui pentingnya makna dalam kehidupan serta penyakit pasien-pasien mereka. Kalau para dokter terus saja meminimalkan atau mengabaikan peran makna dalam kesehatan, kita akan terus kehilangan pengaruh. Kontes di antara para ahli terapi konvensional dengan ahli terapi alternatif bukanlah sekedar sosial ekonomi, keefektifan, keamanan dan ketersediaan, melainkan juga soal makna. Telah ditemukan fakta yang menyakitkan bahwa seberapa efektif pun dunia medis modern itu, kalau ia tidak menghormati tempat makna dalam penyakit, bisa-bisa saja ia kehilangan simpati dari mereka-mereka yang dilayaninya.
            Dunia medis modern sering terbelenggu dengan begitu banyak kompleksitas permasalahan yang dihadapi. Dengan otoritas yang dimilikinya, para dokter sering tidak menyadari bahwa mereka sedang dinilai langsung oleh masyarakat sendiri. Para dokter maupun staf medis lainnya tidak boleh hanya memikirkan apa yang dipikirkan pasiennya juga. Para dokter tidak boleh hanya memikirkan penilaiannya sendiri terhadap penyakit pasiennya, tapi seharusnya dia memikirkan apa yang dipikirkan pasiennya juga. Para dokter tidak boleh hanya menyibukkan diri dengan urusan penyakit pasien mereka dan berfokus pada penyakit itu. Kita tidak boleh hanya memberikan kertas resep dalam ruang praktek kita dengan membiarkan seolah-olah hubungan kita dengan pasien hanya sebatas kertas resep. Bagi dokter modern sekarang, hubungan simpati dan empati tampaknya telah menjadi sesuatu yang sangat mahal untuk dimaknai. Bagaimana tidak? Dalam ruang praktek saja kita sukar untuk menjalin komunikasi dengan sang pasien. Nampaknya para dokter harus belajar ilmu komunikasi dan sedikit ‘akting’ kalau ingin ruang prakteknya sering dikunjungi pasien. Di masyarakat sendiri, saya sering mendengar orang-orang sering mengatakan bahwa mereka lebih menyukai dokter tertentu dan bukannya dokter yang lain; mereka lebih cocok minum obat yang diberikan oleh dokter tertentu daripada yang diberikan oleh dokter yang lain.
            Dalam pandangan saya, ini bukan masalah suka atau tidak suka, cocok atau tidak cocok, tapi ini lebih menyangkut pada kepercayaan sang pasien terhadap kredibilitas sang dokter di mata mereka. Ketika dunia medis gagal dan para pasien serta anggota keluarganya dikuasai kekecewaan, mereka takkan terhibur mendengar sukses-sukses yang telah dicapai dunia medis. Bagi mereka, hanya saat yang di depan mata itulah yang nyata. Sampai kapankah dunia medis ini berubah dari ‘sikap pandirnya’? Tapi sebenarnya pertanyaannya bukanlah kapan atau apakah, melainkan ke arah mana dan sampai sejauh mana? Jika kita mau dunia medis kita kita tercerahkan, berhentilah ‘mengutak-atik’ individu pasien sebagai ‘mesin pemberi ilmu’ dan ‘objek penghasilan’ kita, tapi hargailah makna kemanusiaannya yang hakiki.

Minggu, 08 Agustus 2010

“PENCERAHAN DUNIA PENDIDIKAN”

“Saya sudah tidak mau lagi bersikap ketat. Yang saya inginkan hanyalah menjadi benar”
(Stephen Hawking)


Dalam bukunya “Multiple Intelligence” yang sangat menggemparkan dunia, Howard Gardner menggambarkan bahwa sejumlah riset yang dilakukan oleh para peneliti beberapa dekade yang lalu memberikan fakta yang amat menggoyahkan kemapanan yaitu: sebagian besar mahasiswa di Amerika Serikat, dan sejauh yang dapat dikatakan, sebagian besar mahasiswa di Negara-negara industri lain tidak memahami materi yang diajarkan kepada mereka di sekolah. Artinya, ketika diperhadapkan pada situasi yang tidak dikenal, pada umumnya mereka tidak mampu menggunakan konsep yang tepat dari sekolah, bahkan seandainya mereka adalah mahasiswa yang baik. Bukti nyata, terjadi dalam fisika: mahasiswa yang menerima nilai tinggi dalam fisika di lembaga yang disegani seperti MIT dan John Hopkin tidak mampu menerapkan pengetahuan mereka di kelas untuk menyiasati atau mendemonstrasikan yang dihadapi di luar sekolah (mereka sering menjawab dengan cara yang sama seperti anak berumur lima tahun yang belum sekolah). Ketika belajar dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi, ada begitu banyak orang mengira bahwa mereka sudah menjadi orang pintar dengan menguasai banyak hal, secara khusus pada bidang yang ditekuninya. Tapi sesungguhnya, ilmu yang mereka dapatkan hanya memperkuat fakta bahwa mereka tidak mengerti banyak apa yang diajarkan di sekolah dan perguruan tinggi. Alasannya sederhana: mereka tidak dapat menjelaskan begitu banyak fenomena yang terjadi di sekitarnya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Ini disebabkan karena para praktisi pendidikan saat ini lebih mementingkan nilai dan hasil yang dicapai tanpa mempedulikan bagaimana proses pendalaman materi itu diarahkan pada pemahaman dan upaya membuat sesuatu yang diajarkan mudah dimengerti dan dikembangkan. Sekolah-sekolah kita terjebak dalam pola pendidikan yang kaku, dimana hampir sebagian besar anak didik diarahkan untuk mencapai hasil akademik yang maksimal tanpa mempedulikan berbagai kecerdasan lain di luar kecerdasan akademik. Salah satunya adalah kecerdasan emosi. Ada begitu banyak orang tua yang bangga dengan prestasi akademik anaknya di sekolah tanpa melihat apakah hasil yang dicapai anaknya adalah proses yang murni diperoleh berdasarkan kecerdasan majemuk seperti yang dikemukakan oleh Gardner di atas, ataukah hanyalah ilusi pendidikan formal yang diajarkan secara kaku, sehingga mematikan sendi-sendi dari suatu inovasi dan kreativitas. Yang justru harus dikembangkan lebih jauh lagi di sekolah-sekolah kita atau universitas-universitas adalah kecerdasan emosi yang sungguh masih terlihat jauh di dalam lingkup akademisi kita.
            Proses pencerahan dunia pendidikan harus segera dimulai saat ini juga kalau kita mau sekolah dan universitas kita keluar dari ‘penjara intelektual’ yang miskin akan kecerdasan emosional dan sosialnya. Para guru dan dosen hendaknya tidak hanya berlomba ‘mencetak’ manusia-manusia yang pintar dari segi akademik, tapi bagaimana mengoptimalkan kepribadian mereka menjadi manusia yang lebih berakhlak baik, sehingga nantinya terjun ke masyarakat, mereka akan mengerti dan tahu apa yang harus dilakukan dan mengerti tanggungjawab yang dibebankan di pundak mereka. Di sini, saya berusaha membawa pembaca sekalian, komunitas akademisi dan masyarakat secara keseluruhan untuk menyadari bahwa tugas pendidikan formal seperti sekolah dan universitas perannya tidak sejauh yang kita pikirkan. Sebagai contoh, para lulusan sekolah dan perguruan tinggi yang memiliki nilai akademik yang baik di sekolah dan kampus, ketika berusaha mencari pekerjaan, mereka belum tentu mendapat pekerjaan yang layak dan seperti yang mereka inginkan. Menurut Goleman, hanya sekitar 20% pengaruh IQ (kecerdasan akademik) pada kesuksesan seseorang, sedangkan 80% sisanya dipengaruhi oleh EQ (kecerdasan emosinya). Ada dua kisah yang ingin saya ceritakan disini, yang saya kutip dari bukunya Anthony Dio Martin berjudul Emotional Quality Management, yang membuktikan betapa Kecerdasan emosi nilainya lebih tinggi daripada kecerdasan akademik dalam konteks kehidupan sehari-hari yang dihadapi oleh mereka-mereka yang lulus dari universitas. Seorang wanita, sarjana teknik informatika dengan predikat “summa cum laude” dari universitas yang paling terkenal di Jakarta. Transkrip nilainya karena begitu gemilangnya, hanya dengan sekedar wawancara formalitas ia diterima bekerja, bergabung dengan tim pembuat sistem aplikasi manajemen di perusahaan tersebut. Namun, setelah mulai bekerja, muncul banyak masalah. Gadis ‘cerdas’ ini sering meremehkan teman sekantornya, merasa diri lebih hebat, tak mau membantu kesulitan teman dan terlalu suka mengatur. Dia tidak terlalu peduli dengan orang lain di sekitarnya. Ketika dalam suatu konseling disampaikan keluhan tentang sikapnya ini, gadis ini malah berkata, “Saya bisa menyelesaikan seluruh program ini sendirian, kok. Saya pikir, mereka yang berkomentar tentang saya, cuma karena iri saja”. nyaris ia gagal melalui masa percobaan kerja selama tiga bulan pertama. Kisah lain, seorang pejabat senior di sebuah perusahaan konsultan di Indonesia punya masalah dengan salah seorang stafnya. Karyawannya ini sebenarnya tergolong pintar, lulus cum laude dari universitas di Australia, tetapi selalu bermasalah dengan klien mereka. Sampai suatu saat, si pejabat senior ini menerima surat dari seorang CEO perusahaan klien yang berisi ancaman penghentian kontrak kerja jika ia tak mau menarik staf yang bermasalah tersebut dari proyek yang sedang dikerjakannya di perusahaan CEO tersebut. Kontan saja ia memenuhi permintaan tersebut.
            Pendidikan seharusnya tidak bersikap ketat dengan membebankan tanggungjawab lebih besar pada prestasi akademik, sehingga apa yang dikemukakan oleh Hawking bahwa kita tidak harus lagi bersikap ketat, tapi yang kita perlukan hanyalah menjadi benar, dapat termaknai secara mendalam dalam konteks filosofis. Peran kita dalam dunia pendidikan hendaknya tidak dibatasi oleh sekat-sekat ‘kesombongan intelektualitas’ yang mematikan karya kita untuk turut mencerdaskan bangsa. Kita baru merayakan kemerdekaan RI yang ke-64, tapi kita belum merdeka dari belenggu penjajahan pendidikan jaman modern (yang seharusnya memerdekakan kita). Universitas belum mampu mengangkat harkat dan martabat pendidikan ke tempat yang semestinya yaitu menjadi lembaga penyuplai sumberdaya-sumberdaya yang mumpuni. Setelah diwisuda tanggal 20 Agustus ini, kita dapat melihat apakah sarjana-sarjana lulusan Unsrat dapat bertarung dalam dunia kerja dan kehidupannya di masyarakat ataukah hanya menjadi penonton saja di era globalisasi yang menuntut persaingan semakin ketat. Sebagai institusi, tanggungjawab moral Unsrat harusnya begitu besar dalam mendorong kecerdasan majemuk untuk ditransformasi ke dalam kehidupan nyata bukan hanya menetapkan jumlah maupun predikat kelulusan dan bukan pula hanya melepas para ‘cendekiawan’ ini seperti gerombolan manusia yang tanpa kompas. Tujuan lembaga pendidikan seharusnya dapat mengarahkan alumni-alumninya menuju arah yang benar dalam dunia kompetisi, karena kita dihadirkan sebagai para pemenang ‘a champion’. Bukan hanya kompetisi dalam dunia kerja tapi juga berkompetisi menuju personalitas yang bermoral. Sehingga pada akhirnya, tujuan pendidikan benar-benar dapat tercerahkan karena kita dapat melihat hasil yang optimal dalam berbagai situasi yang kompetitif.
            Saya bukannya hendak mencela dunia pendidikan sekarang, namun sebagai lulusan magister saya berasumsi bahwa pendidikan sekarang kurang bisa mengembangkan kapasitasnya sebagai institusi pendidik yang inovatif, kreatif dan berpikir kritis. Bagaimana tidak, pola-pola lama dalam proses pengajaran masih dipegang teguh oleh para pendidik yang tidak mampu mendongkrak pola pikir terbuka dari para siswa/mahasiswa. Dalam dunia pendidikan, semua elemen didalamnya seolah-olah merasa dirinya yang benar dan hal-hal yang ilmiah senantiasa didewa-dewakan karena pemikirannya yang terstruktur dan sistematis (yang biasa kita kenal dengan metode ilmiah). Namun tidak pernahkah anda tahu bahwa dalam dunia inovasi, mereka-mereka yang berada di luar jalur pendidikan (tidak sekolah formal) menjadi penemu-penemu yang paling penting dalam sejarah peradaban pengetahuan dan umat manusia? Bertolak dari sejarah dan latar belakang seperti itulah, maka nampaknya bagi seorang jenius seperti Eisntein tidak segan-segan mengemukakan bahwa pendidikan yang dia dapat hanya menghalangi jiwa kreativitasnya sehingga Einstein dapat dengan mudah berpikir keluar dari nilai-nilai pendidikan formal. Paul Maeder adalah pendiri perusahaan investasi yang sangat terpandang di Highland Capital. Dialah orang yang menemukan cara yang hebat dalam menganalisa sampel feses untuk penyakit kanker usus besar. Ini benar-benar penemuan yang luar biasa. Nah, mengapa gagasan itu bisa terpikir olehnya? Jawabannya, karena dia bukan seorang dokter. Saya tidak mengatakan bahwa Maeder pikir pendidikan itu buruk; dia akan menjadi contoh yang bertentangan kalau begitu. Namun, Maeder jelas memandang pendidikan bisa membatasi kreativitas. Mengapa begitu? Melalui sekolah, mentor, dan budaya organisasi, pendidikan cenderung hanya berfokus pada hal-hal yang dianggap valid oleh sebuah bidang. Contohnya, jika anda ingin menjadi dokter medis yang hebat, ada aturan-aturan yang harus anda kuasai. Pendidikan yang bagus akan mengajari anda aturan-aturan ini. Anda mempelajari apa yang disimpulkan oleh para pakar dan pemikir sebelumnya untuk membangun keahlian anda sendiri.
            Belajar berbagai hal sebanyak mungkin tanpa terikat dalam cara berpikir tertentu tentang hal-hal itu, haruslah kita pikirkan untuk ditransformasikan dalam kehidupan sehari-hari. Alan Leshner, CEO American Association for the Advancement of Science (organisasi ilmu pengetahuan terbesar di dunia dan lebih dari satu juta orang di seluruh dunia membaca jurnalnya, Science setiap minggu), salah seorang yang paling berpengaruh dan berkoneksi luas dalam masyarakat ilmiah menyimpulkan bahwa “Ilmu disiplin tunggal sudah mati”. Leshner melihat banyak bukti untuk kesimpulan seperti itu. Menurutnya, kebanyakan kemajuan besar melibatkan berbagai disiplin. Ini artinya, jika kita hanya memandang disiplin ilmu kita sebagai ilmu yang paling hebat dan terkemuka dalam lingkup akademisi, sehingga banyak mahasiswa yang berbondong-bondong fokus pada satu fakultas dan meraih keuntungan lebih, maka ini merupakan pandangan utopis yang sulit diterima dalam dunia science global. Tentu saja, kita tidak mau beramai-ramai membelakangi sudut pandang baru untuk berubah hanya karena kita tidak tahu sama sekali makna pendidikan dalam arti yang lebih luas, bukan? Semoga pendidikan kita terus berubah menuju kemajuan yang lebih baik dan menuju pencerahan, sehingga kita dapat mewarisi tradisi kepribadian yang baik, jiwa kompetisi, pemikiran kritis yang lebih baik dan menjadi manusia unggul di berbagai lini kehidupan kepada anak cucu kita.

Kamis, 05 Agustus 2010

KRISIS SPIRITUAL DUNIA MEDIS

Sering kita mendengar di rumah sakit bahkan di klinik terjadi masalah di mana tuntutan  medis menghiasi begitu banyak surat kabar dan menanamkan opini di masyarakat bahwa para praktisi medis hanyalah manusia biasa yang bisa saja berbuat kesalahan. Terlampau banyak kasus yang mengemuka di hadapan publik dan dunia kesehatan yang agak sulit dibendung dari waktu ke waktu karena kita terlampau sering melupakan satu hal yang sangat fundamental yaitu spiritualitas dunia medis. Para professional kesehatan begitu terlatih secara teknis dan ilmiah dalam proses pendidikan dan prakteknya, tapi tidak dipersiapkan secara rohani dan mental ‘berperang’ dalam dunia medis yang begitu keras dan harus dibayar dengan banyaknya korban berjatuhan (terlepas dari perannya sebagai dewa penyembuh yang diagung-agungkan sejak dulu).
            Setiap tahun di perguruan tinggi banyak orang tua dan calon mahasiswa yang berlomba-lomba memasuki sekolah kedokteran karena konsep yang ada di pikiran mereka bahwa studi di bangku kedokteran lebih menjanjikan, entah itu secara finansial atau prestise. Kekeliruan dalam pola berpikir inilah dan ditambah lagi dengan ketidakmampuan para praktisi dunia medis memikirkan sesuatu yang lebih mulia dan agung, dan hanya sekedar memikirkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, melahirkan banyak masalah dalam dunia medis kita. Beberapa waktu lalu, Unsrat pernah disibukkan dengan adanya hearing yang dilakukan oleh para wakil rakyat di DPR dan mantan rektor untuk mempertanyakan biaya masuk Unsrat yang ‘menggila’, lebih khusus biaya kedokteran (tapi tidak pernah tuntas dikembangkan sebagai masalah serius karena kemungkinan ada permainan di balik layar). Walau sarat dengan begitu banyak penyimpangan dalam penerimaan mahasiswa, tapi masih banyak juga orang tua yang mau menyekolahkan anaknya. Ini sesuatu yang patut diacungkan jempol dan membanggakan ataukah tidak lebih dari sekedar pemahaman yang keliru yang merambah dunia kesehatan? Bagaimana tidak, dengan berbagai kapasitas yang tidak memadai kita dipaksakan untuk mendidik kandidat praktisi medis yang kita tahu sendiri kualitas manusianya yang begitu terbatas; bukan hanya pada tingkatan penguasaan ilmunya semata tapi lebih pada ketidakmampuan kita melihat makna dalam dunia medis itu sendiri. Saya tidak sedang berusaha melontarkan pesimisme sesaat dan sepihak, tapi ini adalah analisa saya sebagai bagian dari kepedulian saya terhadap dunia yang membesarkan saya di perguruan tinggi dan juga perkembangan yang terjadi di dunia medis saat ini.
Pengalaman dari masa lalu dan masa kini
            Ijinkan saya mengutip pengalaman dari salah satu praktisi medis, dokter ilmuwan dan penulis buku David Simon, MD mengenai ketidakpuasan yang semakin besar terhadap sistem kesehatan modern kita. “Sejak kuliah kedokteran hampir 25 tahun yang lalu, saya merasa tidak puas dengan pendekatan yang berlaku terhadap kesehatan dan penyakit. Harapan saya sungguh besar ketika kuliah kedokteran, namun ternyata kuliah saya mengecewakan. Saya menginginkan dan mengharapkan diajarkan prinsip-prinsip kesehatan yang sakral. Ternyata saya hanya belajar tentang aspek-aspek menarik dari penyakit. Saya mengharapkan belajar dari para professor kedokteran yang meneladani kerendahan hati dan belas kasih, ternyata saya melihat mereka dihormati terutama karena keterampilan mereka memecahkan masalah, seolah-olah kesembuhan merupakan salah satu cabang dari perekayasaan mekanik. Terkadang saya sangat kecewa bahwa gagasan tentang manusia sebagai ciptaan yang sepenuhnya sadar, yang secara spiritual sadar, telah hilang sama sekali dari model kedokteran tentang kehidupan dan kesehatan”.
            Saya tidak tahu apakah pengalaman di atas juga dirasakan oleh sebagian besar kita yang berkecimpung di dunia medis ataukah kita merasa aman dalam zona kenyamanan kita sendiri. Sedangkan di luar sana begitu banyak persoalan medis yang kita hadapi, bukan pada tingkatan keilmuan tapi lebih cenderung kepada persoalan etika. Jika kita selalu menganggap orientasi kita ditujukan terutama pada kepentingan ilmu kedokteran semata dengan segala pernak-pernik teknologi dan kecanggihan peralatan medis dan obat-obatan, maka kita akan merasa dikecewakan dengan sudut pandang ini. Juga sudah jelas sekarang bahwa merawat penyakit dengan pendekatan yang murni mekanistik seringkali menabur benih penyakit untuk masa mendatang. Di Amerika Serikat sendiri, sebagai negara dengan tingkat perawatan kedokteran paling canggih di dunia, diperkirakan bahwa setiap tahunnya lebih dari 1,5 juta orang menderita infeksi setelah dirawat di rumah sakit, dan beribu-ribu orang meninggal karena bakteri yang sudah kebal terhadap antibiotic. Biaya merawat infeksi iatrogenik atau yang berhubungan dengan perawatan di rumah sakit ini diperkirakan mencapai 3 miliar dolar per tahunnya. Lebih pergeseran fokus persepsi. Pergeseran fokus dan tanggungjawab dari diagnosis intuitif ke hasil-hasil tes yang terukur telah mentransformasikan sekaligus menghilangkan basa-basi yang dahulunya demikian penting dalam seni penyembuhan sang dokter. Di dalam istilah yang lebih filosofis, bukannya memandang sang pasien sebagai sesama manusia, sang pasien terancam menjadi objek di mata sang dokter. Hal ini bukan saja merampas keberadaan hakiki sang pasien, melainkan juga memutuskan sang dokter sendiri dari sumber kehidupan serta kasih di dalam karyanya.
            Sebagian besar kekecewaan publik terhadap dunia medis modern terletak pada gagalnya para praktisi medis untuk mengakui pentingnya makna dalam kehidupan serta penyakit-penyakit pasien mereka. Para ilmuwan mulai menemukan fakta yang menyakitkan: seberapa efektif pun dunia medis modern itu, kalau ia tidak menghormati tempat makna dalam penyakit, bisa-bisa ia kehilangan simpati dari mereka-mereka yang dilayaninya. Kalau kita mau sekolah-sekolah medis kita kembali menghasilkan penyembuh-penyembuh, mereka harus mendorong transformasi kehidupan batiniah dari para siswanya yang mempercayakan diri mereka kepada proses pendidikannya. Sebagian besar kita yang hidup di kalangan medis telah melupakan sejarah mula-mula dan tujuan luhur ilmu kedokteran itu sendiri seperti yang diproklamirkan oleh Hipocrates. Penekanan ilmu kedokteran tidak lagi menjadi persoalan sosial yang dikedepankan tapi sebaliknya industri dan bisnislah yang menguasai kita. Inilah penyebab mengapa kita telah menggeserkan peran praktisi medis ke arah yang kalau boleh dibilang kurang manusiawi dan menyebabkan kekecewaan publik terhadap kita. Lewis Thomas, yang pernah disebut sebagai dokter yang paling didengarkan di Amerika memberikan petunjuk tentang apa yang telah hilang dan perlu ditemukan kembali, bukan saja dalam dunia medis melainkan juga dalam masyarakat kita pada umumnya. Dia mengatakan, “seharusnya sekarang ini adalah saman terbaik untuk pikiran manusia, tetapi nyatanya tidak; kita sama sekali tidak benar-benar memahami alam. Memang kemajuan kita sudah cukup besar, tetapi hanya cukup untuk menyadari ketidaktahuan kita. Sepenuhnya tidak tahu apa-apa itu ternyata tidaklah seburuk itu; yang sulit adalah menuju pengetahuan sejati. Cukup jauh untuk menyadari bahwa kita tidak tahu apa-apa. Sungguh memalukan dan menekan, dan itulah salah satu masalah kita saman sekarang. Kita membutuhkan ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan yang lebih banyak dan lebih baik, bukan demi teknologinya, bukan demi waktu luang, bahkan bukan pula demi kesehatan atau umur panjang, melainkan demi pengharapan akan hikmat yang harus diraih kebudayaan kita demi kelangsungan hidupnya”.
            Dunia medis modern telah menjadi salah satu profesi yang paling kekurangan gizi rohani dalam masyarakat kita. Karena kita telah demikian tidak mengakui komponen rohani dalam penyembuhan. Dokter itu mempunyai kebutuhan rohani seperti orang lainnya, dan kami telah membayar harga yang sangat mahal karena mengabaikannya. Pokoknya sangat tidak enak berpraktek medis seolah-olah yang penting itu hanyalah yang fisik; ada sesuatu yang rasanya kurang dan tidak lengkap. Dalam dunia medis berteknologi tinggi sehari-hari yang hiruk pikuk, sungguh mudah kita melupakan empati dan kasih. Empati secara khusus menunjukkan kemampuan para dokter untuk membayangkan bahwa mereka menjadi pasien yang datang meminta tolong kepada mereka”. Empati adalah kemampuan untuk turut merasakan perasaan serta emosi-emosi sesama. Kalau toh kita melupakan kasih, maka rumah sakit itu bisa menjadi rumah yang mengerikan. Di dunia medis modern ada kecenderungan untuk memandang kasih sebagai sesuatu yang menghalangi pendekatan rasional terhadap perawatan pasien. Ini adalah salah perhitungan yang serius.
            Andre Malraux, novelis Perancis yang pernah menjabat menteri kebudayaan Perancis mengatakan bahwa abad ke-21 akan menjadi abad yang rohani atau tidak sama sekali. Dunia medis juga demikian, akan dirohaniakan kembali atau tidak sama seklai, setidaknya bukan dalam bentuk yang tidak kita inginkan. Tetapi ada pengharapan besar, dan riset ilmiah tentang efek-efek doa, empati dan kasih yang menyembuhkan, yang baik untuk merohaniakan dunia medis kembali. Dunia pendidikan harus cepat bergerak dan mengambil peran lebih besar menyikapi hal ini  untuk mengatasi krisis spiritual yang terjadi dalam dunia medis kita. Dari 125 sekolah kedokteran di Amerika, ada sekitar 85 sekolah kedokteran yang sudah menekankan pada bidang kerohaniaan yang lebih besar lagi. Lalu kapan sekolah medis kita bergerak ke arah sana? Tantangan dari pertanyaan itu hanya bisa dijawab oleh komunitas medis kita dan masyarakat yang mengawasi dan menilainya. Semoga Tuhan membantu kita lebih memanusiakan manusia.